Oleh: Angga | Juni 4, 2010

mati

A:

Yang benar adalah benar, tapi saya khawatir ketika saya tidak bisa menerima sesuatu yang benar, ketika itu pula saya meninggalkan kebenaran.

Y:

Kalau kau takut dengan kematian, maka kematian akan mengejarmu.

Entah kenapa sejak saat itu saya mati rasa dengan yang namanya duka atas kematian.

I have no reason to doubt.

Ich habe keine Grund zu zweifeln.

Oleh: Angga | Mei 4, 2010

(In)Konsistensi

QUERY:

Kok elu orang atheis masih nyantumin agama di KTP atau di kolom identitas lainnya ya? Bukannya itu tindakan inkonsistensi?

ANSWER:

Emang elu dah konsisten sama agama yang elu cantumin di KTP?

Oleh: Angga | April 24, 2010

Tausiyah Malam

Ummatii…ummatii…ummatii….

Kata-kata penghabisan sang guru utama umat muslim, Rasulullah Muhammad ShalaLlahu ‘Alaihi Wasalam

Umatku…umatku…umatku….

Sebuah kerinduan dari seorang pemimpin untuk mengasuh dan memelihara umatnya, untuk menghindarkan mereka dari segala bala dan fitnah sepeninggalnya.

Sebuah naluri yang diajarkan seorang pemimpin di akhir hidupnya bagi para umatnya, para kadernya, untuk senantiasa peduli terhadap kemaslahatan saudaranya seiman dan seluruh manusia di muka bumi yang menghendaki keselamatan.

Kalaulah aku diberi umur lagi, akan kugunakan untuk menjaga umatku…

Oleh: Angga | April 22, 2010

Blog di tengah proyek

jam setengah tiga siang di labtek V kampus…

saya baru ingat satu hal yang saya kehilangan sejak lama dahulu mengenai yang namanya pemrograman

ketika yang namanya deadline hanyalah masa pengumpulan setelah semua kode dirangkai indah dengan hati yang senang

semangat lagi, bung!

perdjoeangan beloem berachir, tjoj!

Oleh: Angga | Maret 7, 2010

puisi pagi-pagi

SAJAK PALSU

Karya: Agus R Sarjono

selamat pagi pak,  selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu

Lalu merekapun belajar sejarah palsu

dari buku-buku palsu

Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu

Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.

Sambil tersipu palsu

dan membuat tolakan-tolakan palsu,

akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu

untuk mengubah nilai-nilai palsu

dengan nilai-nilai palsu yang baru

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu,

ahli hukum palsu,

ahli pertanian palsu,

insinyur palsu

Sebagian menjadi guru, ilmuwan, atau seniman palsu

Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu

dengan ekonomi  palsu

sebagai panglima palsu

Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu

dengan ekspor dan impor palsu

yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu

dengan giat menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu

tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu

kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu

yang dijamin devisa palsu

Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu

sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu

ke dalam nasib buruk palsu

Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu

dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu

di tengah seminar dan dialog-dialog palsu

menyambut tibanya demokrasi palsu

yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.

1998

Oleh: Angga | Februari 27, 2010

pagi-pagi hari sabtu

this familiar scenes of the town shine as twilight
brought by the wind, reaching upon you

the distant black fog rises
the flame has burnt up
the sun takes you away

the faraway path and this swayed throbbing heart
the wind of gold touches your smile
hastily changes into a new day

shone by the setting sun, the shadow awfully elongates
the uncountable piling nights fall upon
wanting to hasten the clock until I meet you
this earth, hardly turns around, but fast

those summer days were resurrected

far away from your long shadow
I wish to watch upon you while crying
wanting to hasten the clock until I meet you
this earth, hardly turns around, but fast

la la la la la… the flame has burnt up

this familiar scenes of the town shine

wind of gold…

–Wind of Gold, L’arc~en~Ciel

translasi kasar…

ntah kenapa tiba2 ingin dengerin lagu ini terus-terusan…

:)

Oleh: Angga | Agustus 29, 2009

Egoisme

Suatu ketika di malam yang mendung berbadai di tengah laut…seorang operator geladak utama kapal tempur melihat cahaya lampu di kejauhan…sebelum ia mendapat legitimasi kapten, tiba-tiba panggilan dari radio mengusik ketegangan di geladak…

Operator: Perhatian pada kapal patroli! Anda berada pada jalur tumbukan terhadap kami. Kami minta agar anda segera memutar haluan kapal Anda 45 derajat ke arah utara. Ganti!

Kapten: Di sini kapal jelajah angkatan laut dan Anda berada dalam wilayah yurisdiksi negara kami. Kami meminta agar Anda memutar kapal Anda sebanyak 45 derajat ke arah utara karena Anda berada pada jalur tumbukan dengan kapal kami. Ganti!

Operator: Tidak, Pak! Anda berada pada jalur tumbukan terhadap kami dan kami minta agar Anda segera memutar haluan kapal Anda ke arah utara sebanyak 45 derajat. Ganti!

Kapten: Kuulangi, operator! Anda berada pada jalur tumbukan dengan kapal jelajah angkatan laut yang sedang berpatroli di wilayah yurisdiksi negaranya. Kami perintahkan Anda untuk segera memutar haluan Anda atau kami akan bertindak tegas terhadap kapal Anda! Ganti!

Operator: Maaf, pak Kapten! Anda berada pada jalur tumbukan dengan MERCUSUAR!

Oleh: Angga | Agustus 25, 2009

Tiba-tiba gelap…

BismiLlaahirrahmanirrahiim…

Jam setengah sebelas malam, sembari mengendarai motor di tengah jalan kompleks yang sepi. Hampir semua penduduk tengah terlelap ataupun disibukkan dengan kegiatan dalam rumahnya sehingga jalanan terasa amat sunyi. Apalagi dengan saya yang pada saat itu sedang berada di pinggiran kota Bandung, jauh dari keramaian dan kesibukan yang membuat penat.

Siapa yang menyangka tiba-tiba listrik padam dan di kiri serta kanan rumah-rumah menjadi gelap? Satu-satunya penerangan hanya dari lampu depan motor saya. Tidak terbayang bagi saya bila sampai jalan depan rumah, mesin motor saya dimatikan sehingga lampu motor padam dan semua penghuni rumah sedang tidur sembari saya disibukkan dengan mencari-cari “mana kunci pagar garasi?”

Yah apa boleh buat, mau tidak mau memang harus dimatikan karena kunci motor dan kunci garasi saya bersatu dalam set kunci yang bakalan repot kalau saya lepas satu.

Ternyata malam ini tidak segelap yang saya kira. Langit yang saya sangka berwarna hitam ternyata menyala dalam warna biru temaram seperti fajar.

Dan rasanya nyaman sekali ketika semua orang meringkuk diam dalam sepinya temaram, tak ada yang terjaga….hanya aku dan Allah…

Kapan lagi saya bisa bersyukur atas rizki cahayaNya dan menafakuri keberhargaannya ketika kegelapan melingkup?

Benarlah adanya bahwa masa-masa gelap adalah masa-masa yang patut disyukuri oleh orang-orang yang mengenal cahaya…ketika mereka Diberi kesempatan untuk berzikir bahwa cahaya itu amatlah mahal harganya dan pantas diperjuangkan keberadaannya…

Alhamdulillah yaa Rabbanaa…

ps: saya tidak berbicara mengenai sekedar “cahaya” dan “kegelapan” :)

Oleh: Angga | Agustus 20, 2009

Bosan

Saya butuh alasan mengapa orang-orang sibuk mempelajari suatu konsep pergerakan yang pada kenyataannya pergerakan itu sendiri diwujudkan orang-orang tersebut tanpa ada manifestasi dari konsep yang ia pelajari.

Saya ga menyalahkan orang tertentu dan saya sendiri boleh jadi ga luput dari hal ini. Akan tetapi, terus terang saya heran, saya bosan, dan saya benci terhadap hal ini.

Huff…Astaghfirullah…

Yaa Allah, Yaa Tuhanku…
hamba memohon agar Engkau turunkan bagi kami kekonsistenan terhadap apa-apa yang Engkau ajarkan pada kami. Tetapkanlah kami pada konsepMu dan luruskanlah langkah kami atasnya.

Dan hamba memohon agar Engkau ingatkan kami bahwa sebesar apapun usaha kami, Engkaulah yang mewujudkan hasilnya dan Engkaulah yang menahan hasilnya. Serta hancurkanlah semua usaha orang-orang yang menyangka Engkau tidak memiliki andil dalam pencapaian cita-cita mereka.

Hamba mohon agar Engkau turunkan ampunan bagi kami dan jauhkanlah kami dari azab karena melupakanMu…

Oleh: Angga | Agustus 17, 2009

Balada Layar Bahtera ~op2

Bahtera muda layar terkuak
Tambang hentak
Lambung pecahkan samudra
Sauh hempas
Haluan tantang cakrawala
Acung baja dingin tajam
Katalah MERDEKA
Mereka sang tuan tangan

Hai nahkoda jago,
Layak singa mengaum tampangmu
Kau terkam cendrawasih di ufuk timur
Kau tinju budak-budak barat di semenanjung

Tapi kau lupa saudara di sarang lebah
Tapi kau rampas madu kotori limbah
Layaklah anjing gigit nadi lehermu
Hingga pisah kepala dan kakimu

Hai bintara,
Kau hunus baja dingin di sabukmu
Kau sumpah setia nahkodamu
Meski merah darahnya tak sesamamu

Kau lupa saudaramu di kebun sana
Lama kau teguk air asin durjana
Gemuk gerogot kayu bahtera
Lenyaplah ditelan samudra

Hai kelasi,
Kau tahu ini bahtera siapa?
Bahkan tak kau rasa ikut ukirnya
Tiba-tiba ikut tenggelam dengannya

Sungguh kasihan engkau malangnya
Air segar disangka petaka
Apa dikata, burung bukit kau hina gila
Hanya mereka kenal cahaya

Hai bahtera,
Lapuk entah dari apa kayunya
Compang entah dari apa layarnya
Patah entah karena apa dayungnya
Hina entah karena apa namanya
Tanyalah padanya
Mungkin dijawab si hantu pohon di sana

Mana manusia tunggangimu?
Karam pesisir layak bangkai dirimu
Darah tanpa tulang di haluanmu
Kepala tak beraga di buritanmu
Tak ada tanda manusia di kamarmu

Aku pejalan, hanya pejalan, berharap tak karam di bahtera palsu
Aku ingat namamu hai bahtera, aku ingat namamu
Indahlah jika langit Tuan kenal kayumu
Indahlah jika bumi Tuan awal kayumu
Hingga namamu menjadi karunia Tuanku
Selamatlah penghunimu
Cinta kasih Sang Raja bagimu
Berkah Tuan menyertai layarmu

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.