sebenernya judul dan isi ga ada hubungan secara eksplisit sih…tapi cobalah kita simak sedikit senda gurau kurang ajar dari seorang kawan yang hendak membuka pikiran…
kalo memang anda menganggap ini suatu terobosan, maka lakukanlah…
bila anda menganggap ini sampah, maka sebaik2 cara membersihkan sampah adalah dengan menjadikan sampah itu berguna….
ntar lagi kan pemilu nih ya, taun 2009 nih. banyak partai2 yang mengampanyekan melalui media-media massa. banyak juga kader2 partai yang seperti pedagang MLM menjajakan nama partainya untuk didukung (serius bos; kader partai, salesman, ama misionaris sebenernya sama, beda barang dagangan doang).
yak…melihat banyaknya golongan2 tertentu yang ingin merasakan empuknya kursi wakil rakyat, tentunya terlihat pula gencarnya kampanye2 yang cenderung melegalkan segala cara. janji2 klise lah, tampilan calon pejabat yang “bagus” lah, bahkan hiasan2 idealisme dan agama di tubuh parpol ikut meramaikan suasana pesta demokrasi.
cis! janji kosong yang sejak zaman reformasi ga mengubah “bangunan yang sudah rusak fondasinya, bahkan tiangnya siap roboh”. para wakil yang sudah merasakan empuknya kursi DPR dengan mudahnya menukar idealisme yang tertanam padanya saat menjadi kader.
di mana rakyat kecil? apakah mereka masih terpikirkan di kepala seorang wakil rakyat waktu ia bangun tidur?
rasanya percuma kita menjadi supporter satu golongan pemain permainan politik bila lapang permainan saja sudah penuh lumpur. meskipun tampilan awal mereka necis,rapi,gagah, percuma kalau lapangannya kotor. coba pikirkan baik2. apa kita mau terbuai angan2 kosong? kita diiming-imingi janji pemain yang katanya akan tetap bersih sembari si pemain melemparkan diri ke lubang babi dan kera yang penuh lumpur. pikirin baik2…apa perlu kita memberikan piala yang kita jaga untuk selalu baik pada pemain yang berkecimpung di sarang binatang hina?
apakah piala itu? mereka adalah “bangunan” di sekitar kita, yaitu masyarakat yang mengharapkan negeri ini jatuh ke tangan orang yang bersih, yang zaman sekarang pemimpin bersih itu sudah ga ada.
dalam suatu kajian sejarah, ada hal unik nan heroik yang pernah dilakukan nenek moyang kita, yaitu bahwa…
pejuang bandung lebih memilih membakar kotanya daripada memberikannya pada pihak kolonis belanda.
golput bukan suatu bentuk ketidakpedulian. justru menjadi golput adalah solusi, dan realisasi penggunaan kekuatan suara yang dapat mengancam eksistensi sebuah negara.
apabila lebih dari 50% penduduk suatu negeri golput dalam pemilihan kepala negara atau pemilu skala nasional lainnya, maka negara tersebut dinyatakan tidak ada. ini persetujuan internasional.
inilah ancaman yang bersifat nyata, yang dapat diajukan oleh rakyat yang tidak memiliki kekuatan politik, untuk menggetarkan kursi pemerintahan suatu negeri.
lebih baik negara ini hilang daripada pengaturannya diserahkan pada orang2 yang tidak bertanggung jawab.
kita mau menuntut pemimpin kita bertindak benar? maka golputlah. atau kita merasa memiliki ide untuk pemerintahan, tapi ga bisa masuk ke kursi pemerintahan karena masalah ekonomi? maka golputlah.
vacuum of power adalah harapan. harapan bagi mereka yang merasa pemimpin sekarang perlu digantikan, mereka yang tertindas dengan sistem yang hadir, mereka yang tidak mampu menyentuh dan tak tersentuh pergulatan penentuan nasib negeri.
vacuum of power juga ancaman. ancaman hanya bagi mereka yang telah nyaman menduduki kursi tanpa berbuat apa2 untuk “punggawa”nya. ancaman pula bagi mereka yang dengan pikirannya yang tertutup merasa masih perlu “menjaga rumah reyot yang tidak berfondasi agar tidak rubuh”.
cobalah buka pikiran kita, saudaraku. apakah kepala kita hanya berisi doktrin pelajaran sejarah dan kewarganegaraan? ataukah kita mampu untuk membaca alam dan merealisasikan pembacaan tersebut sebagai tindakan?
apakah saya melanggar dan berbuat salah? republik ini negara demokrasi, kalo pemimpin republik menghendaki kebebasan berpendapat, apa hak anda untuk membungkam saya? kalopun anda menuntut awak meminta maaf, awak lakuin dari awal….
silakan tampilkan pegangan anda, kalau memang anda bukan orang apatis!