Oleh: dergrosse | Agustus 30, 2009

:)

Kukisahkan atas nama Sang Pencipta yang karenaNya aku hidup…

Seminggu lebih ramadhan…berharap di bulan ini aku bisa benar-benar meninggalkan seseorang dan mengisi rongga yang ia tinggalkan dengan satu tujuan yang sama-sama kami kejar…

Rasanya saya masih ingat ketika di waktu-waktu ini sekitar tiga musim lalu…kau mulai mengenal diriku…setelah kala membangun tabir di antara kita…

Sebuah permulaan yang salah tampaknya…meskipun pada akhirnya kau pun mengerti alasan diriku ada di sisimu selama ini…

Satu tujuan…ya, kau berharap diriku ini memberimu jalan keluar atas gelombang hitam yang selama ini tak kasat mata karena gelapnya malam…namun apa dikata bila hati tak selayak kain putih…bahkan pohon pun bisa berbuah ikan lele dan air pun bisa berubah wujud… fufufu…

Apalah dikata bila langit berkata pada angin untuk tak lagi membawa hujan? tentulah bahkan bidadari pun tak dapat berdiri di muka bumi…aku mengerti sayapmu yang terbakar, bahumu yang seolah memanggul beban keraguan dan langkahmu yang terseok…maafkan bila diri ini justru membawa angin panas yang bahkan dapat membakar pembawanya…

Layaklah bila langit melarangnya untuk berhembus padamu kala itu…hai bidadari
Layaklah bila langit melarangnya untuk berhembus padamu kala itu…hai bidadari
Layaklah bila langit melarangnya untuk berhembus padamu kala itu…hai bidadari yang kala itu sayapmu terbakar

Layakkah bila sang peniup angin mencinta pada bidadari dengan sayap terbakar…tak kan karena anginmu akan membawa petaka bagimu dan baginya…

Ingatlah Penciptamu dan kehendaknya hai pejalan hai peniup angin…karenanya kau akan menyelamatkannya…

Dua musim hai bidadari…dua musim dari kala kita bertemu hingga kau mengerti arti keberadaanku di sisimu…

Kau sekarang terbang hai bidadari…
Bukan karenaku, tapi karena langit turunkan hujan atasmu…
Bukan karenaku, tapi karena bejana di ronggamu terisi dengan Ruh Pencipta hujan…
Bukan karenaku, tapi karena kini kau mampu membawa angin yang berhembus mengiring hujan…

Apalah arti diriku di sisinya? Bahkan kini langitku bernaung atasnya pula…karenanya kumohon wahai Pencipta…isilah ronggaku dan rongganya dengan Ruh-Mu…

Hai bidadari…kelak kau akan taburkan bintang di tengah kejamnya malam…mereka membawa cahaya layaknya pedoman dan penolong…

…meski gelap hendak menghapus dan biaskan ia…

Oleh: dergrosse | Agustus 29, 2009

Egoisme

Suatu ketika di malam yang mendung berbadai di tengah laut…seorang operator geladak utama kapal tempur melihat cahaya lampu di kejauhan…sebelum ia mendapat legitimasi kapten, tiba-tiba panggilan dari radio mengusik ketegangan di geladak…

Operator: Perhatian pada kapal patroli! Anda berada pada jalur tumbukan terhadap kami. Kami minta agar anda segera memutar haluan kapal Anda 45 derajat ke arah utara. Ganti!

Kapten: Di sini kapal jelajah angkatan laut dan Anda berada dalam wilayah yurisdiksi negara kami. Kami meminta agar Anda memutar kapal Anda sebanyak 45 derajat ke arah utara karena Anda berada pada jalur tumbukan dengan kapal kami. Ganti!

Operator: Tidak, Pak! Anda berada pada jalur tumbukan terhadap kami dan kami minta agar Anda segera memutar haluan kapal Anda ke arah utara sebanyak 45 derajat. Ganti!

Kapten: Kuulangi, operator! Anda berada pada jalur tumbukan dengan kapal jelajah angkatan laut yang sedang berpatroli di wilayah yurisdiksi negaranya. Kami perintahkan Anda untuk segera memutar haluan Anda atau kami akan bertindak tegas terhadap kapal Anda! Ganti!

Operator: Maaf, pak Kapten! Anda berada pada jalur tumbukan dengan MERCUSUAR!

Oleh: dergrosse | Agustus 25, 2009

Tiba-tiba gelap…

BismiLlaahirrahmanirrahiim…

Jam setengah sebelas malam, sembari mengendarai motor di tengah jalan kompleks yang sepi. Hampir semua penduduk tengah terlelap ataupun disibukkan dengan kegiatan dalam rumahnya sehingga jalanan terasa amat sunyi. Apalagi dengan saya yang pada saat itu sedang berada di pinggiran kota Bandung, jauh dari keramaian dan kesibukan yang membuat penat.

Siapa yang menyangka tiba-tiba listrik padam dan di kiri serta kanan rumah-rumah menjadi gelap? Satu-satunya penerangan hanya dari lampu depan motor saya. Tidak terbayang bagi saya bila sampai jalan depan rumah, mesin motor saya dimatikan sehingga lampu motor padam dan semua penghuni rumah sedang tidur sembari saya disibukkan dengan mencari-cari “mana kunci pagar garasi?”

Yah apa boleh buat, mau tidak mau memang harus dimatikan karena kunci motor dan kunci garasi saya bersatu dalam set kunci yang bakalan repot kalau saya lepas satu.

Ternyata malam ini tidak segelap yang saya kira. Langit yang saya sangka berwarna hitam ternyata menyala dalam warna biru temaram seperti fajar.

Dan rasanya nyaman sekali ketika semua orang meringkuk diam dalam sepinya temaram, tak ada yang terjaga….hanya aku dan Allah…

Kapan lagi saya bisa bersyukur atas rizki cahayaNya dan menafakuri keberhargaannya ketika kegelapan melingkup?

Benarlah adanya bahwa masa-masa gelap adalah masa-masa yang patut disyukuri oleh orang-orang yang mengenal cahaya…ketika mereka Diberi kesempatan untuk berzikir bahwa cahaya itu amatlah mahal harganya dan pantas diperjuangkan keberadaannya…

Alhamdulillah yaa Rabbanaa…

ps: saya tidak berbicara mengenai sekedar “cahaya” dan “kegelapan” :)

Oleh: dergrosse | Agustus 20, 2009

Bosan

Saya butuh alasan mengapa orang-orang sibuk mempelajari suatu konsep pergerakan yang pada kenyataannya pergerakan itu sendiri diwujudkan orang-orang tersebut tanpa ada manifestasi dari konsep yang ia pelajari.

Saya ga menyalahkan orang tertentu dan saya sendiri boleh jadi ga luput dari hal ini. Akan tetapi, terus terang saya heran, saya bosan, dan saya benci terhadap hal ini.

Huff…Astaghfirullah…

Yaa Allah, Yaa Tuhanku…
hamba memohon agar Engkau turunkan bagi kami kekonsistenan terhadap apa-apa yang Engkau ajarkan pada kami. Tetapkanlah kami pada konsepMu dan luruskanlah langkah kami atasnya.

Dan hamba memohon agar Engkau ingatkan kami bahwa sebesar apapun usaha kami, Engkaulah yang mewujudkan hasilnya dan Engkaulah yang menahan hasilnya. Serta hancurkanlah semua usaha orang-orang yang menyangka Engkau tidak memiliki andil dalam pencapaian cita-cita mereka.

Hamba mohon agar Engkau turunkan ampunan bagi kami dan jauhkanlah kami dari azab karena melupakanMu…

Oleh: dergrosse | Agustus 17, 2009

Balada Layar Bahtera ~op2

Bahtera muda layar terkuak
Tambang hentak
Lambung pecahkan samudra
Sauh hempas
Haluan tantang cakrawala
Acung baja dingin tajam
Katalah MERDEKA
Mereka sang tuan tangan

Hai nahkoda jago,
Layak singa mengaum tampangmu
Kau terkam cendrawasih di ufuk timur
Kau tinju budak-budak barat di semenanjung

Tapi kau lupa saudara di sarang lebah
Tapi kau rampas madu kotori limbah
Layaklah anjing gigit nadi lehermu
Hingga pisah kepala dan kakimu

Hai bintara,
Kau hunus baja dingin di sabukmu
Kau sumpah setia nahkodamu
Meski merah darahnya tak sesamamu

Kau lupa saudaramu di kebun sana
Lama kau teguk air asin durjana
Gemuk gerogot kayu bahtera
Lenyaplah ditelan samudra

Hai kelasi,
Kau tahu ini bahtera siapa?
Bahkan tak kau rasa ikut ukirnya
Tiba-tiba ikut tenggelam dengannya

Sungguh kasihan engkau malangnya
Air segar disangka petaka
Apa dikata, burung bukit kau hina gila
Hanya mereka kenal cahaya

Hai bahtera,
Lapuk entah dari apa kayunya
Compang entah dari apa layarnya
Patah entah karena apa dayungnya
Hina entah karena apa namanya
Tanyalah padanya
Mungkin dijawab si hantu pohon di sana

Mana manusia tunggangimu?
Karam pesisir layak bangkai dirimu
Darah tanpa tulang di haluanmu
Kepala tak beraga di buritanmu
Tak ada tanda manusia di kamarmu

Aku pejalan, hanya pejalan, berharap tak karam di bahtera palsu
Aku ingat namamu hai bahtera, aku ingat namamu
Indahlah jika langit Tuan kenal kayumu
Indahlah jika bumi Tuan awal kayumu
Hingga namamu menjadi karunia Tuanku
Selamatlah penghunimu
Cinta kasih Sang Raja bagimu
Berkah Tuan menyertai layarmu

Oleh: dergrosse | Agustus 17, 2009

Introduction of Vendetta

V:

I can assure you, I mean you no harm…

Evey Hammond:

Who are you?

V:

Who? “Who” is but the form following the function of “what.” And what I am is a man in a mask.

Evey Hammond:

Well, I can see that…

V:

Of course you can.

I’m not questioning your powers of observation. I’m merely remarking upon a paradox of asking a masked man “who he is.”

Evey Hammond:

Oh, right…

V:

But on this most auspicious of nights, permit me then, in lieu of the more commonplace sobriquet, to suggest the character of this dramatis persona.

VOILA!

In view, a humble vaudevillian veteran, cast vicariously as both victim and villain by the vicissitudes of fate. This visage, no mere veneer of vanity is a vestige of vox populi now vacant and vanished.

However, this valorous visitation of a bygone vexation stands vivified and has vowed to vanquish this venal and virulent vermin vanguarding vice and vouchsafing the violently vicious and voracious violation of volition!

The only verdict is vengeance; a vendetta held as a votive not in vain, forthe value and veracity of such shall one day vindicate the vigilante and the virtuous.


Hahah…hah…ha…hah…

Verily, this vichyssoise of verbiage veers most verbose. So let me simply add that it’s very good honor to meet you and you may call me “V.”

Evey Hammond:

Are you like a crazy person?

V:

I am quite sure they will say so.

Taken from V for Vendetta

Oleh: dergrosse | Januari 31, 2009

gelombang air panas

sebenernya judul dan isi ga ada hubungan secara eksplisit sih…tapi cobalah kita simak sedikit senda gurau kurang ajar dari seorang kawan yang hendak membuka pikiran…

kalo memang anda menganggap ini suatu terobosan, maka lakukanlah…
bila anda menganggap ini sampah, maka sebaik2 cara membersihkan sampah adalah dengan menjadikan sampah itu berguna….

ntar lagi kan pemilu nih ya, taun 2009 nih. banyak partai2 yang mengampanyekan melalui media-media massa. banyak juga kader2 partai yang seperti pedagang MLM menjajakan nama partainya untuk didukung (serius bos; kader partai, salesman, ama misionaris sebenernya sama, beda barang dagangan doang).

yak…melihat banyaknya golongan2 tertentu yang ingin merasakan empuknya kursi wakil rakyat, tentunya terlihat pula gencarnya kampanye2 yang cenderung melegalkan segala cara. janji2 klise lah, tampilan calon pejabat yang “bagus” lah, bahkan hiasan2 idealisme dan agama di tubuh parpol ikut meramaikan suasana pesta demokrasi.

cis! janji kosong yang sejak zaman reformasi ga mengubah “bangunan yang sudah rusak fondasinya, bahkan tiangnya siap roboh”. para wakil yang sudah merasakan empuknya kursi DPR dengan mudahnya menukar idealisme yang tertanam padanya saat menjadi kader.

di mana rakyat kecil? apakah mereka masih terpikirkan di kepala seorang wakil rakyat waktu ia bangun tidur?

rasanya percuma kita menjadi supporter satu golongan pemain permainan politik bila lapang permainan saja sudah penuh lumpur. meskipun tampilan awal mereka necis,rapi,gagah, percuma kalau lapangannya kotor. coba pikirkan baik2. apa kita mau terbuai angan2 kosong? kita diiming-imingi janji pemain yang katanya akan tetap bersih sembari si pemain melemparkan diri ke lubang babi dan kera yang penuh lumpur. pikirin baik2…apa perlu kita memberikan piala yang kita jaga untuk selalu baik pada pemain yang berkecimpung di sarang binatang hina?

apakah piala itu? mereka adalah “bangunan” di sekitar kita, yaitu masyarakat yang mengharapkan negeri ini jatuh ke tangan orang yang bersih, yang zaman sekarang pemimpin bersih itu sudah ga ada.

dalam suatu kajian sejarah, ada hal unik nan heroik yang pernah dilakukan nenek moyang kita, yaitu bahwa…
pejuang bandung lebih memilih membakar kotanya daripada memberikannya pada pihak kolonis belanda.

golput bukan suatu bentuk ketidakpedulian. justru menjadi golput adalah solusi, dan realisasi penggunaan kekuatan suara yang dapat mengancam eksistensi sebuah negara.

apabila lebih dari 50% penduduk suatu negeri golput dalam pemilihan kepala negara atau pemilu skala nasional lainnya, maka negara tersebut dinyatakan tidak ada. ini persetujuan internasional.

inilah ancaman yang bersifat nyata, yang dapat diajukan oleh rakyat yang tidak memiliki kekuatan politik, untuk menggetarkan kursi pemerintahan suatu negeri.

lebih baik negara ini hilang daripada pengaturannya diserahkan pada orang2 yang tidak bertanggung jawab.

kita mau menuntut pemimpin kita bertindak benar? maka golputlah. atau kita merasa memiliki ide untuk pemerintahan, tapi ga bisa masuk ke kursi pemerintahan karena masalah ekonomi? maka golputlah.

vacuum of power adalah harapan. harapan bagi mereka yang merasa pemimpin sekarang perlu digantikan, mereka yang tertindas dengan sistem yang hadir, mereka yang tidak mampu menyentuh dan tak tersentuh pergulatan penentuan nasib negeri.

vacuum of power juga ancaman. ancaman hanya bagi mereka yang telah nyaman menduduki kursi tanpa berbuat apa2 untuk “punggawa”nya. ancaman pula bagi mereka yang dengan pikirannya yang tertutup merasa masih perlu “menjaga rumah reyot yang tidak berfondasi agar tidak rubuh”.

cobalah buka pikiran kita, saudaraku. apakah kepala kita hanya berisi doktrin pelajaran sejarah dan kewarganegaraan? ataukah kita mampu untuk membaca alam dan merealisasikan pembacaan tersebut sebagai tindakan?

apakah saya melanggar dan berbuat salah? republik ini negara demokrasi, kalo pemimpin republik menghendaki kebebasan berpendapat, apa hak anda untuk membungkam saya? kalopun anda menuntut awak meminta maaf, awak lakuin dari awal….

silakan tampilkan pegangan anda, kalau memang anda bukan orang apatis!

Oleh: dergrosse | Desember 9, 2008

an old story

Have u ever heard anything called “pyrhic victory?”

Once there was a king bearing the name Pyrus of Epirus
bringing an army to conquer the land we know well as Rome

He was so confident with his army…
until the time when two army meet upon each other

The romans, with their pride, came to repel their enemy back into their land
but it was a failure for them.

But so were for Pyrus

He made a victory…
but he almost lost everything

“Another battle with Rome, and Epirus will be nothing,” he said

Thus comes now the word “Pyrhic Victory”
a word for those who achieved their dream
but lost almost everything in his effort to gain it

Oleh: dergrosse | Desember 7, 2008

08:12:07::2255 LT

sekitar 7 jam menuju momen sholat ‘id…

Ga kerasa tahun hijriyah ini sudah hampir selesai. Kalau dirasa, 12 bulan yang lalu seperti sebentar saja. Banyak harapan yang ingin dilaksanakan pada saat itu untuk tahun ini. Akan tetapi, tak terasa waktu itu berlalu. Memang tanpa sengaja perubahan-perubahan itu terjadi, tetapi banyak juga hal-hal yang saya sesali karena tidak memanfaatkan tahun kemarin dengan maksimal.

‘Iid-al Adha, satu momen penting bagi umat muslim ketika seluruh komponen umat meninggalkan kesibukannya untuk berkumpul dalam satu ritual khusus. Tidak hanya dalam bentuk shalat sunnah, tetapi juga penyembelihan hewan qurban yang dagingnya kemudian dibagikan pada orang-orang yang diprioritaskan untuk diberi.

Sering sekali orang-orang mereferensikan peristiwa sejarah Nabi Ibrahim Alahi-s Salam terhadap kegiatan ritual ini. Terutama ketika turunnya tugas dari Allah supaya beliau menyembelih putranya, Nabi Ismail Alaihi-s Salam. Dengan penuh keikhlasan beliau laksanakan perintah tersebut. Ketika perintah tersebut terlaksana, maka kemudian sesungguhnya seekor hewan ternaklah yang beliau sembelih. Ismail, putranya, berdiri tegak di samping Ibrahim sebagai manusia yang utuh.

Ada suatu nilai yang mungkin kita luput dari momen ini. Bahwa sesungguhnya penyembelihan qurban dimaksudkan untuk membunuh sisa-sisa kebinatangan dalam diri. Qurban sendiri bukanlah berarti korban. Ia memiliki akar kata yang sama dengan qarib (dekat). Esensi qurban adalah mendekatkan diri pada Allah sebagai manusia yang utuh. Manusia yang tegak berdiri dengan kokoh pada keadilan dan kebenaran di jalan yang lurus. Manusia yang bersih dari unsur-unsur kebinatangan yang menodai kemurnian dalam pengabdian.

Yah…saya rasa cukup, masih sekitar 6 jam lagi menuju momen shalat ‘Iid dan penyembelihan qurban. Akan tetapi, semoga penyembelihan hewan qurban nanti benar-benar turut menyembelih sifat kebinatangan yang masih menempel pada diri kita.

Salvation upon those who desire

Oleh: dergrosse | November 29, 2008

08:11:29:22:16

Sudah lewat setaun, sepertinya…bahkan lebih, atau kurang?

It was my friend, a best friend whom I held dear, turn his back and leaves.

Rasanya tiga tahun tidak bertemu bisa mengubah banyak hal. Ya, pada saat kulihat dirimu, banyak yang berubah. Kau selebritis sekarang, banyak yang mengagumimu. Kau bukan bocah lugu yang sempat kukenal agak sedikit minder. Kalaupun kau merasa tergerhanai oleh diriku yang sempat mencicipi penghargaan, aku minta maaf. Bukan keinginanku terpisah denganmu. Keterpisahan hanya karena orang2 menganggap aku lebih darimu. Tidak, aku tidak pernah ingin seperti itu.

Aku merasa kesepian meskipun penghargaan datang dari segala penjuru. The one I needed was you, whom I had been isolated from. It was you, the one I thought as brother.
Tiga tahun kita menapaki jalan masing-masing…dan bertemu pada satu waktu yang ditetapkan.

Kau selebritis sekarang, banyak yang mengagumimu. Satu hal yang agak membuatku terhenyak.

Yah, diri ini mengharapkan suatu hari untuk dihargai. Aku memang berbeda dengan orang2, dan itu yang membuat orang lain menghindariku. Aku berharap ketika bertemu dirimu, kau bisa membuka hatimu terhadap apa2 yang ingin kuberitakan. Akan tetapi, justru kaulah yang seolah lebih mengetahui banyak, yang membuat kaki ini terguncang setelah kokohnya ia tegak.

Terlewati, hari dan hari berikutnya…

Seolah diriku memang bayi yang baru lahir, tetapi setidaknya tulang rangkaku sudah keras. Perkataanmu dulu yang pernah membuat hampir terhempasnya diriku telah terjelaskan. Tak ada alasan bagiku untuk tak mengabarkan berita gembira yang sedikit saja sebutannya akan memberi getaran ke seluruh permukaan bumi.

Dan tak ada alasan bagimu untuk pergi begitu saja meninggalkan gumpalan pertanyaan.

Thus I say, keraguan adalah kanker yang paling ganas.

Kawan, aku tahu suatu hari akan ada yang menggantikanmu…and I shall call him…

My brother

Tulisan Sebelumnya »

Kategori